Di Balik Cadar

14

Perlahan Berubah

6 min baca · 1163 kata ·
31 Agustus 2026

Sejak percakapannya dengan Ibu Maryam, ada sesuatu yang perlahan berubah dalam diri Naima. Ia masih menggunakan media sosial, masih sesekali membuka ponselnya, dan masih membuat beberapa konten yang menurutnya bermanfaat. Namun sekarang ia tidak lagi menjadikan jumlah pengikut sebagai tujuan utama. Ia mulai belajar bahwa tidak semua kebaikan harus diketahui banyak orang dan tidak semua sesuatu yang baik harus menjadi viral. Pada awalnya perubahan itu terasa aneh. Ketika membuat sebuah konten kemudian hanya mendapatkan sedikit respons, ada bagian kecil dalam dirinya yang masih merasa kecewa. Kebiasaan lamanya tidak mungkin hilang begitu saja. Tetapi setiap kali perasaan itu muncul, Naima kembali mengingat perkataan ibunya. Ia mencoba bertanya kepada dirinya sendiri, apakah sedikitnya orang yang melihat berarti kebaikan itu menjadi sia-sia? Pertanyaan sederhana itu perlahan membuatnya belajar untuk tidak lagi menggantungkan nilai sebuah kebaikan pada jumlah manusia yang melihatnya.

Suatu pagi, Naima duduk di meja kerja dengan sebuah laptop di hadapannya. Tidak ada kamera, tidak ada lampu, dan tidak ada Zahra yang sibuk memikirkan konsep agar kontennya menarik. Di layar laptop hanya ada sebuah dokumen kosong. Naima memandang halaman putih tersebut cukup lama. Ia sebenarnya sudah memiliki banyak hal yang ingin dituliskan. Pengalamannya selama ini telah memberikan begitu banyak pelajaran kepadanya. Tentang popularitas, tentang pujian, tentang hati yang mudah berubah, tentang bagaimana seseorang bisa merasa dirinya sedang berdakwah padahal diam-diam sedang mencari pengakuan manusia. Namun menuliskannya ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.

Ia mengetik beberapa kalimat. Kemudian menghapusnya. Menulis lagi. Menghapus lagi.

Naima tersenyum kecil.

"Kenapa susah sekali?"

Ia terbiasa berbicara di depan kamera. Ia bisa membuat satu video dalam waktu singkat. Jika ada kalimat yang salah, tinggal mengulang rekaman. Jika ekspresinya kurang bagus, bisa diulang. Jika pencahayaan tidak sesuai, bisa diperbaiki. Bahkan jika ada bagian yang tidak disukai, semuanya bisa diedit. Tetapi menulis membuatnya harus duduk bersama pikirannya sendiri. Tidak ada musik yang bisa membangun suasana. Tidak ada filter yang bisa menyembunyikan sesuatu. Tidak ada ekspresi yang bisa dibuat agar terlihat lebih meyakinkan. Hanya ada kata-kata yang harus lahir dari dalam dirinya.

Naima kemudian mulai menulis tentang dirinya sendiri. Ia tidak menulis untuk menceritakan bahwa dirinya pernah terkenal. Ia justru menulis tentang bagaimana popularitas membuatnya hampir kehilangan arah. Ia menulis tentang rasa senang ketika dipuji dan rasa sakit ketika dihujat. Ia menulis tentang angka-angka yang dulu begitu ia kejar sampai lupa bahwa hidup tidak pernah sesederhana jumlah pengikut. Ia juga menulis tentang Fatimah yang tidak pernah lelah mengingatkannya dan tentang Ibu Maryam yang dengan kalimat sederhana berhasil membuatnya melihat kembali apa yang selama ini ia abaikan.

Beberapa halaman mulai terisi.

Naima membacanya kembali.

Untuk sesaat muncul keinginan untuk menjadikannya sebuah konten. Ia membayangkan membuat video tentang proses menulis buku tersebut. Ia membayangkan bagaimana orang-orang akan penasaran dengan kisah hidupnya. Ia bahkan sempat berpikir tentang judul yang bisa membuat banyak orang tertarik.

Tangannya berhenti di atas keyboard.

Naima terdiam.

Kebiasaan lama itu ternyata masih ada.

Ia baru menulis beberapa halaman, tetapi pikirannya sudah kembali memikirkan bagaimana orang lain akan merespons.

Naima menutup laptop.

Ia mengambil napas panjang.

"Ya Allah..."

Ia tersenyum kecil kepada dirinya sendiri.

"Ternyata aku belum benar-benar sembuh."

Namun kali ini ia tidak memarahi dirinya. Ia justru memahami bahwa memperbaiki hati memang membutuhkan waktu. Ia membuka kembali laptop dan melanjutkan tulisannya tanpa memikirkan apakah buku tersebut akan laku atau tidak. Ia tidak memikirkan apakah namanya akan kembali terkenal. Ia hanya ingin menuliskan sesuatu yang mungkin suatu hari bisa dibaca oleh seseorang yang sedang mengalami hal serupa.

Hari demi hari berlalu. Naima terus menulis. Kadang hanya beberapa halaman. Kadang hanya satu halaman. Ada hari ketika ia begitu mudah menemukan kata-kata, tetapi ada juga hari ketika ia hanya duduk di depan laptop tanpa menghasilkan satu paragraf pun. Namun ia tetap melanjutkannya. Tidak ada target harus selesai dalam waktu tertentu. Tidak ada keharusan membuat tulisan menjadi viral. Tidak ada angka yang harus dikejar.

Semakin lama menulis, Naima semakin merasa bahwa buku itu bukan hanya untuk orang lain. Buku itu juga untuk dirinya sendiri.

Setiap kali menulis tentang kesalahan, ia seperti sedang mengingatkan dirinya sendiri. Setiap kali menulis tentang keikhlasan, ia merasa sedang belajar kembali. Setiap kali menulis tentang penyakit hati, ia justru merasa harus lebih banyak mengoreksi dirinya.

Suatu malam, Zahra datang dan melihat naskah yang sedang dikerjakan Naima.

"Kamu sedang nulis buku?"

Naima mengangguk.

"Bagus dong. Mau aku bantu promosikan?"

Naima tersenyum.

"Nanti saja."

"Kalau dari sekarang kita bangun hype-nya, nanti ketika bukunya selesai bisa langsung ramai."

Naima terdiam sejenak. Dulu kalimat seperti itu mungkin akan membuatnya bersemangat. Ia pasti langsung memikirkan strategi promosi, jumlah pembeli, jumlah tayangan, dan berbagai cara agar bukunya menjadi perhatian banyak orang.

Namun sekarang ia justru merasa ingin menjaga sesuatu dari buku tersebut.

"Aku ingin menyelesaikannya dulu," jawab Naima.

"Kenapa?"

"Karena aku ingin tahu dulu, tulisan ini benar-benar bermanfaat atau cuma keinginanku untuk dikenal lagi."

Zahra terdiam.

Naima tersenyum.

"Aku sudah terlalu lama mengejar orang lain. Sekarang aku ingin belajar mengejar sesuatu yang lebih penting."

Sejak saat itu Naima semakin jarang membagikan kehidupannya di media sosial. Ia tidak lagi merasa harus menunjukkan setiap aktivitas yang dilakukannya. Ketika sedang menulis, ia menulis. Ketika sedang bersama keluarga, ia menikmati waktunya. Ketika sedang beribadah, ia berusaha menjaga agar tidak ada keinginan untuk menjadikannya sebagai tontonan.

Ia mulai memahami bahwa ada amal yang memang lebih baik ketika tidak diketahui siapa pun.

Suatu sore, Naima selesai menulis satu bagian yang cukup panjang. Ia membaca kembali tulisan tersebut. Di sana ia menuliskan tentang dakwah dan bagaimana seseorang bisa begitu mudah mengajak orang lain berubah, tetapi sulit sekali mengubah dirinya sendiri.

Naima berhenti membaca. Ia tersenyum pahit. Betapa mudahnya mengatakan kepada orang lain untuk sabar. Betapa mudahnya mengingatkan orang lain agar ikhlas. Betapa mudahnya menyuruh orang lain tidak mencari pujian. Namun ketika semua nasihat itu harus diterapkan kepada dirinya sendiri, ternyata jauh lebih berat.

Naima menutup laptop.

Ia kemudian mengambil wudu dan menunaikan salat. Setelah selesai, ia duduk cukup lama di atas sajadah.

"Dakwah yang paling berat ternyata bukan berbicara kepada banyak orang," pikirnya. "Tapi memperbaiki diri sendiri."

Kalimat itu terus berada di dalam pikirannya.

Selama ini ia mengira semakin banyak orang yang mendengar nasihatnya berarti semakin besar keberhasilannya. Sekarang ia mulai memahami bahwa mungkin keberhasilan yang sebenarnya justru ketika satu nasihat yang ia sampaikan berhasil ia lakukan terlebih dahulu.

Buku itu akhirnya perlahan menjadi bagian dari perjalanan Naima untuk kembali menemukan dirinya. Ia tidak tahu apakah kelak buku tersebut akan dibaca ribuan orang atau hanya beberapa orang. Ia tidak tahu apakah buku itu akan menjadi terkenal atau justru tidak banyak dikenal.

Untuk pertama kalinya, ia tidak terlalu peduli. Ia hanya ingin menulis sesuatu yang baik. Sesuatu yang jujur. Sesuatu yang mungkin bisa menjadi pengingat bagi orang lain dan juga bagi dirinya sendiri.

Naima kembali duduk di depan laptop. Halaman kosong menunggunya. Ia mulai mengetik.

Tidak ada kamera. Tidak ada angka. Tidak ada pujian. Hanya ada sebuah niat yang sedang ia jaga agar tetap sederhana. Dan untuk pertama kalinya, Naima merasa bahwa mungkin inilah bentuk dakwah yang selama ini ia cari. Bukan tentang seberapa banyak orang yang melihat. Tetapi tentang seberapa jauh dirinya sendiri mau berubah.


BERSAMBUNG