13

Nasab itu Apa?

4 min baca · 612 kata ·
27 September 2026

Setelah kebersamaan sekitar dua jam bersama Kak Irsyad, aku merasakan sesuatu yang sangat nyaman, tetapi aku tak dapat mengartikannya. Keesokan harinya aku menjadi lebih bersemangat untuk bekerja. Kak Irsyad juga tersenyum kepadaku sebelum berpamitan berangkat kerja.

Hari ini rasanya berlangsung begitu cepat. Menjelang pulang dari aktivitas di universitas, kulihat sosok Ken duduk di taman dekat parkir kendaraan. Dalam waktu tak lama aku telah berhasil mengendarai motor matik buatan pabrik negaraku untuk kendaraanku di sini. Alisha tentunya yang berjasa mengajariku.

“Hai, capek ya?” Ken menyapaku dengan ramah.

“Tidak, aku senang dengan pekerjaaku.” Kujawab sesuai isi hatiku.

“Taraaa. Kubawakan sesuatu untukmu.”Penuh semangat Ken memberikan kejutan untukku. Membawa Teru Teru Bozu, boneka angin khas Jepang yang dipercaya anak-anak bisa menangkal hujan dan harapan keesokan hari cuaca cerah.

Aku tersenyum getir. Antara luka dan kerinduan kampung halaman, diberikan kasih sayang oleh Tuan Haruto sewaktu masih kecil. Boneka seperti itu yang kutinggalkan bersama semua kenangan di sana.

“Terima kasih, tetapi aku percaya bahwa hujan adalah rezeki dari Allah.” Jawabanku membuat Ken tersenyum dengan ekspresi yang menurutku dipaksakan.

Untuk menghormati pemberian Ken, Teru Teru Bozu tetap kubawa pulang yang membuat Alisha cemberut, lalu menelepon Kak Irsyad, kemudian menghilang di balik pintu kamarnya.

Boneka itu hanya kusimpan di almari, kalau aku pasang akan menjadi perhatian dan pertanyaan banyak orang. Selepas itu aku tak mempedulikan lagi karena aku bersemangat menyambut hari Minggu. Saatnya libur kerja dan aku berjanji akan memasak makan siang untuk keluarga dengan tanganku sendiri.

Masakan sederhana yang akan kusajikan, sup makaroni sayur, ayam goreng, tempe goreng, sambal dan kerupuk. Aku sangat puas bisa meyajikan tanpa bantuan siapapun. Keluara juga mengungsi ke rumah tante agar aku fokus memasak dan mereka berjanji akan makan tanpa memprotes rasanya. Hasil karyaku telah tersaji di meja makan. Pukul sebelas, saatnya aku memanggil keluarga untuk makan siang menikmati masakanku.

“Noriko gadis yang baik Ayah,” kudengar Alisha berbicara dengan sendu dan nada permohonan.

“Ayah tau dia baik sebagai sahabat, sebagai anak, tapi bukan sebagai menantu,” Ayah berbicara penuh ketegasan. Kuurungkan mengetuk pintu karena kedua kakiku rasanya bergetar. Mereka sedang membicarakanku. Menantu?

“Irsyad yakin dia akan menjadi istri yang baik. Dia juga sudah menjaga Alisha selama di Jepang,” Kak Irsyad meninggi.

“Sudah kubilang dia baik sebagai sahabat dan anak tapi bukan sebagai menantu! Kita juga harus menjaga kehormatannya. Kalau dia menikah dengan laki-laki lain, kita akan penuh hormat menjadi keluarga dari pihak perempuan yang mengantarkannya kepada keluarga laki-laki. Kalau dia menikah dengan Irsyad, kemana kita akan mengantarkannya kepada keluarganya dan keluarga mana yang akan mengantarkannya kepada kita? Itu akan membuat kita malu. Lagipula dia tidak memiliki nasab yang jelas kan?” Pertanyaan balik dari ayah kepada keluarga membuatku semakin kacau. Aku dan Kak Irsyad. Lalu, nasab itu apa?

Tak sanggup lagi aku mendengar, kuberlari menuju musala mengambil air wudhu sambil masih sesenggukan. Penolakan. Aku mendapatkan penolakan kembali di tempat ternyamanku oleh sosok yang sangat aku hormati. Pria berbaju koko biru mendekatiku,  Iqbal muncul bersiap akan mengumandangkan adzan, namun dia mendekat melihatku menangis. Kulihat Kak Irsyad keluar dari rumah tante dan  menuju  tempat kami berada.

“Nasab itu apa?” dengan gemetar kubertanya kepada Iqbal.

Kulihat Iqbal terkejut tetapi memberikan jawaban, “Nasab itu ikatan kekeluargaan atau hubungan darah dalam agama Islam.”

Belum sempat kubertanya lagi, Kak Irsyad menyerobot tanganku masuk ke dalam rumah, ini pertama kalinya kami bersentuhan, disaksikan Iqbal dan tetangga yang akan menunaikan salat dhuhur.

“Aku akan menikahimu,” tegas Kak Irsyad kepadaku. Rasanya aku begitu terkejut dengan hal yang serba tiba-tiba ini.  Aku tak bisa menjawab apapun.

Selepas salat salat dhuhur, kami makan bersama dengan suasana yang begitu asing serta rasa yang hambar. Hal yang kusiapkan sepenuh hati dan penuh antusias terasa sia-sia. Kutundukkan kepala menahan agar kuah supku tidak bercampur garam alami dari kedua mataku.


BERSAMBUNG