Waktu pernikahan kami semakin dekat, tinggal menghitung hari. Segala persiapan telah selesai. Saat mengamati proses mendekorasi venue untuk pernikahan, busanaku terlihat bercak merah. Aku baru datang bulan dan baru deras-derasnya. Rasanya tidak nyaman. Bu RT menghampiriku dan meminta berganti pakaian.
“Wah, nikah pas baru menstruasi biasanya nanti cepat punya anak,” goda Bu RT yang diamini oleh ibu dan Alisha.
Setelah berganti baju, kudengar tetangga yang dulu mengantar bingkisan ke rumah berbisik kepada ibu-ibu di sebelahnya,”Tau nggak kenapa mereka cepat-cepat nikah? Mereka sudah melakukan hubungan terlarang, pasti lagi hamil itu. Tunggu saja bentar lagi perutnya membesar.”
“Masa iya Bu, Mas Irsyad orang baik begitu, Mbak Noriko juga kalem,” sanggah ibu berbaju kuning.
“Nggak percaya buktikan saja sendiri, bentar lagi perutnya pasti membesar,” ujarnya meyakinkan.
Keramahan yang selama ini aku dapatkan ternyata tergores karena sebuah kesalahpahaman. Aku hanya bisa beristighfar. Tetapi memiliki Kak Irsyad dan keluarganya membuatku tetap tenang. Setelah makan siang kuceritakan hal itu kepada keluarga bersamaan Bu RT sedang lewat.
“Tidak usah didengarkan Mbak Noriko, fokus menikah saja. Buktinya Mbak Noriko juga baru menstruasi kan ini? Mas Irsyad puasa dulu lhoo,” canda Bu RT. Akupun semakin tenang.
“Masih keluar banyak nggak?” tanya Alisha.
“Saat ini masih banyak, biasanya kalau sudah hari keempat hanya sedikit. Insya Allah pas akad nikah sudah tidak keluar banyak,” jawabku sambil membetulkan posisi duduk.
Saat yang lain sudah mulai beranjak aku berbisik kepada Kak Irsyad, “Tadi Bu RT bilang kalau menikah saat menstruasi biasanya cepat punya anak. Kalau beneran langsung punya anak gimana Kak? Nanti pasti dikira aku sudah hamil duluan.” Muncul kekhawatiran dalam diriku.
“Ya Alhamdulillah dong, itu rezeki. Biarkan saja omongan orang, ingat kata Bu RT fokus nikahan kita ya. Mau dengarkan aku kan? Kalau masih mau ngikut omongan itu emak, kukembalikan kamu ke Jepang,” canda Kak Irsyad meluruhkan kekhawatiranku.
Hari Jumat yang dinanti telah tiba. Pukul 09.00 kami akan melaksanakan akad nikah. Karena tak memiliki ayah kandung, juga tak memiliki saudara yang beragama Islam, aku dinikahkan oleh wali hakim. Saksi dari pihak Kak Irsyad adalah saudaranya dari Malang. Sedangkan saksi dari pihakku adalah pimpinanku di universitas. Selain itu teman-teman kerjaku juga hadir sebagai keluarga besan. Hal itu merupakan ide dari Hilda, yang kini putra putri kembarnya ikut menyaksikan acara penting dalam hidupku.
Saat ijab qabul akan dimulai, sosok Ken muncul dengan tergopoh, “Tunggu dulu!”
Aku dan Kak Irsyad saling berpandangan. Alisha tampak emosi, tetapi ditahan oleh Brian. Tak lama kemudian terlihat Yovita, gadis yang menyukai Brian. Alisha semakin badmood.
“Maaf kedatangan kami yang tiba-tiba. Sebagai tanda persaudaraan dari Ken kepada Noriko, dia mengajak teman-teman dari Jepang untuk menyaksikan pernikahan Noriko dan Irsyad. Ayah mempersilakan mereka duduk. Yovita megambil tempat duduk di sebelah Ken.
Alhamdulillah akad nikah berjalan lancar. Kini aku dan Kak Irsyad telah resmi sebagai suami istri. Akupun tak sendiri, teman-teman Ken dari Jepang yang tak kukenal ikut mendoakan dan berfoto bersama kami. Calista juga hadir bersama suaminya yang berkebangsaan Kanada.
Selepas salat Jumat, aku berganti pakaian resepsi. Jika akad nikah menggunakan adat Jawa asal Kak Irsyad, kini saat resepsi menggunakan busana kimono khas Jepang lengkap dengan dekorasinya. Banyak tamu yang tertarik dan mengambil kesempatan foto dengan kami maupun dekorasinya. Ini pasti hal yang unik bagi mereka. Sedangkan untuk hidangan kami menyediakan makanan Jepang dan makanan Indonesia. Sebenarnya aku ingin resepsi adat Jawa atau internasional, tetapi ayah memberikan saran menggunakan tradisi Jepang sesuai tanah kelahiranku.
Hari yang membahagiakan dan melelahkan. Selepas salat Isya, kami masih menerima tamu. Saat kami akan beristirahat di kamar pengantin yang telah dihias begitu indah, aku memeluk Kak Irsyad cukup lama. “Biarkan begini dulu. Suamiku, Irsyad Kurniawan, kamulah rumah ternyamanku.” Nyaman sekali berada dalam pelukan pria ini. Aku enggan melepasnya.
Kak Irsyad pun membelai rambutku. “Tidak boleh terluka lagi, tidak boleh merasa terdoktrin lagi, bersamaku kamu bebas menentukan ide-ide hidupmu asal tetap dalam ikatanku,” gumamnya.
Belaian rambut terhenti. Entahlah tiba-tiba aku mengambil keputusan, “Aku ingin berhijab seperti Alisha,” Kak Irsyad berbinar dan mengiyakan keputusanku.
BERSAMBUNG