14

Memohon Restu

4 min baca · 639 kata ·
27 September 2026

Aroma hambar masih menyelimuti sarapan pagi ini. Aku tetap membantu ibu memasak selepas salat tahajud. Ibu masih mengajakku mengobrol seolah-olah tak terjadi apa-apa. Sedangkan ayah, kulihat aura dingin dan penolakannya mengingatkanku kepada Nenek Fumiko. Apa kabar beliau sekarang? Ada sisi kerinduan yang masih sedikit membekas. Alisha memberikan seulas senyum seolah menyalurkan energi penguat untukku. Kak Irsyad, dalam diam kedua netranya beradu dengan bola mataku penuh arti seolah mengatakan “Yakinlah, semua akan baik-baik saja.” Ah, sejak kapan aku merasa menjadi orang yang mampu membaca pikiran orang, itu hanya perasaanku saja.

Sepanjang perjalanan menuju universitas, memoriku mengenang kembali saat bercerita diiringi hujan bersama Kak Irsyad. Dia yang akan mengajakku menikah. Tersungging senyum tipis di bibirku ini. Dihentikan oleh lampu merah, mungkin aku akan dianggap tidak waras karena tersenyum seorang diri jika tak tertutup oleh masker dan helm berkaca gelap. Mengapa rasanya seperti ini? Tak pernah ada laki-laki muda yang memperlakukanku sebaik ini sebelumnya. Saat lampu hijau menyala, justru kegundahan menghampiri. Penolakan ayah. Nasab yang tidak jelas. Maskerku kini telah basah terkena air mata yang meluncur tanpa izin.

Kucoba tetap tenang, bekerja secara profesional. Tak kuhiraukan pesan dari Ken yang mengajak makan siang. Panggilan telepon darinya pun tak kuangkat. Dan lagi Ken menanyakan apakah aku baik-baik saja? Kubalas jawaban singkat “Maaf, aku sedang sibuk.”

Selepas bekerja dan menunaikan salat maghrib kukirim pesan kepada Kak Irsyad untuk datang ke rumah. Pria berlesung pipit dengan kacamata minus yang sudah membuatku nyaman itupun tak lama mengetuk pintu.

“Ayah, Ibu, Alisha, dan Kak Irsyad, maaf Noriko sangat berterima kasih untuk kebaikan keluarga ini. Noriko banyak merepotkan dan membuat suasana tidak nyaman. Bolehkah Noriko izin pindah rumah?” Permohonanku disertai gestur membungkukkan badan tanda hormat.

Hening tak ada jawaban.

“Noriko benar-benar meminta maaf,” kulanjutkan dan seketika dipotong oleh ayah, “Memangnya siapa yang mengusirmu?”

“Tidak ada yang mengusirku Ayah. Itu keinginan Noriko sendiri.” Aku masih membungkukkan badan dan menundukkan kepala.

“Ayah, Kak Irsyad itu sudah peduli dengan Noriko sejak masih di Jepang. Noriko juga gadis yang baik, bukankah bagus jika mereka menikah. Aku hanya akan menikah dengan Brian jika Kak Irsyad sudah menikah.” Alisha menyela pembicaraan kami.

“Apakah harus dengan Noriko? Aku sudah mengatakan, jika Noriko menikah dengan orang lain, dia akan menjadi bagian keluarga kita dengan cara yang terhormat. Kita akan mengantarkan kepada keluarga laki-laki, sebaliknya keluarga laki-laki akan mendatangi kita sebagai keluarganya. Kalau Irsyad menikah dengan Noriko, dia akan kita serahkan kemana dan siapa yang akan menyerahkan dia kepada kita?” tegas ayah.

“Ibu akan ikut bahagia jika Irsyad dan Noriko menikah. Namun, sebagai orang tua, ibu juga memahami pertimbangan ayah untuk kebaikan kalian dan nama baik keluarga.” Ibu yang sedari tadi diam ikut angkat bicara.

“Apakah modal cinta saja cukup Irsyad untuk membangun keluarga?” Ayah menantang Kak irsyad.

“Justru Irsyad belum memiliki cinta untuk Noriko. Tapi aku memiliki kekaguman sejak masih di Jepang dari cerita Alisha dan keyakinan jika Noriko wanita yang baik. Aku yakin bahwa dia wanita yang ingin aku ajak hidup dan berjuang bersama. Akupun yakin Noriko juga belum memiliki cinta untuk Irsyad. Tetapi apakah ayah yakin jika laki-laki di luar sana bisa membahagiakan dan menjaga Noriko?” Pertanyaaan balik Kak Irsyad kepada ayah.

Perlahan Kak Irsyad menggandeng tanganku. Aliran darahku serasa meluap-luap tak beraturan. Kami berlutut di tempat duduk ayah dan ibu.

“Ayah, Ibu, restuilah kami,” pinta Kak Irsyad dengan posisi kami masih berlutut dan menunduk. Kudengar isak tangis ibu dan Alisha, tapi tak sepatah katapun keluar dari bibir mereka.

Hening. Tak ada jawaban dari ayah. Kami masih tetap berlutut. Bermenit-menit. Air mataku tak bisa kutahan lagi. Kak Irsyad menguatkan genggaman tangannya.

Seketika ayah memeluk kami.

“Berbahagialah anak-anakku. Saling menjaga dan tetap berbakti kepada kami.” Tangis ayahpun pecah di pelukan kami.

Kelegaan dan deraian air mata mengisi malam kami. Alisha memelukku.

“Akhirnya kau akan menjadi kakakku Noriko.” Alisha enggan melepas pelukannya dariku.

Setelah itu, ibu menangkup kedua pipiku. “Putriku,” lalu memeluk dan membelai rambutku. 


BERSAMBUNG