15

Rasa yang Semakin Tumbuh

3 min baca · 450 kata ·
27 September 2026

Perasaanku dan Kak Irsyad bukan berasal dari benih-benih cinta yang membara layaknya dua insan yang di mabuk asmara. Kami bermodalkan rasa yakin, saling percaya dan ingin saling menjaga.

Jika ada waktu senggang kami berempat sering meluangkan waktu keluar bersama Alisha and Brian. Mereka yang justru lebih antusias mempersiapkan pernikahan kami. Memang Kak Irsyad tidak ingin menunggu lama apalagi Alisha dan Brian juga sudah lama menjalin hubungan, tak baik jika ditunda terlalu lama karena tak ingin melangkahi kakaknya, ada baiknya mereka juga segera diresmikan. Sering bersama, saling menanyakan kabar membuat rasaku kepada Kak Irsyad menjadi ketergantungan. Ada rasa khawatir bagaimana jika ada wanita yang menggodanya? Apakah itu namanya cemburu?

“Bilang sama Ken, kalau Noriko akan jadi kakak iparku,” pesan Alisha kepada Brian penuh penekanan.

Setelah itu, Ken memang tak lagi mengirim pesan atau meneleponku. Kak Irsyad kadang juga menayakan Ken dengan aura tidak suka.

Persiapan kami semakin matang. Tiba-tiba kudengar suara gemblodak di atas atap. Ada kucing berkejaran. Ada bagian atap yang bolong. Berhubung ayah dan ibu tidak di rumah maka kutelepon Kak Irsyad dan kuceritakan kejadian tadi. Kak Irsyadpun datang mengenakan kaus dan celana pendek.

“Kucing nakal, merusak kamar kita. Noriko, ayo kita latihan berumah tangga. Kita ambil tangga,” ajak Kak Irsyad, akupun menyanggupi.

Kami bawa tangga lipat ke dalam kamar.

“Tunggu sebentar! Aku ambil pelapis antibocor milik Juna. Punya ayah sudah habis.” Tak lama berselang Kak Irsyad membawa kaleng dan membukanya.

Penuh hati-hati dia melapisi atap yang bolong karena ulah kucing. Setelah selesai dia menurunkan ember pelapis anti bocor itu. Aku berniat mengambilkannya air minum di meja dekat pintu. Kubuka tutup botol air mineral itu.

“Noriko, tolong ditutup,” pinta Kak Irsyad. Akupun mematuhinya dan menutup pintu.

“Maksudku tutup kalengnya bukan tutup pintu.” Kak Irsyad tertawa akupun ikut tertawa karena salah paham dengan perintahmya.

Lalu aku berniat membuka pintu yang tadi kututup, tetapi tanganku tak sengaja menyenggol botol air mineral dan menumpahkan sedikit isinya di lantai.

“Noriko, hayoo tumpah karena ulahmu. Dua kali membuat kesalahan. Hukumannya bersihkan sampai beres!” Kak Isyad berlagak menjadi seorang mandor kepada pekerjanya.

“Iya iyaa, aku ambil tisu dulu,” jawabku seolah merajuk. Kak Irsyad membantuku membersihkan lantai karena ulahku dan kami masih melanjutkan tawa lepas ini bersama.

“Assalamualaikum,” terdengar sapaan dari luar karena pintu depan dalam kondisi terbuka.

“Waalaikumsalam,” jawab kami serempak.

Kubuka pintu dan serentak keluar beriringan dengan Kak Irsyad. Ada tetangga yang memberikan bingkisan untuk ayah dan ibu.

“Tante panggil-panggil tidak ada yang keluar, ternyata kalian di dalam kamar sepertinya sedang asyik.” Tetangga itu menyerahkan bingkisan dengan pandangan mata mencurigai kami.

“Kami sedang,” belum selesai Kak Irsyad menjelasakn dia sudah berpamitan.

“Apa aku salah lagi? Harusnya aku tadi tidak menutup pintu.” Kupandang Kak Irsyad.

“Tidak usah dipikirkan. Ayo, kita bereskan!” Kak Irsyad menenangkanku. 


BERSAMBUNG