Membangun rumah tangga ternyata tak seindah cerita dongeng. Begitupun aku dan Kak Irsyad. Berselisih pendapat, berdebat, perbedaan-perbedaan kebiasaan kadang membuat kami bertengkar kecil. Namun, Kak Irsyad selalu punya cara untuk menyelesaikan dan lebih banyak mengalah. Kak Irsyad membeli perumahan sebagai tempat bernaung kami yang baru. Bukan tempat yang luas dan mewah, tetapi tempat yang sangat nyaman dan memberikan warna dalam hidup kami.
Bulan berikutnya aku tak menerima tamu bulanan. Seperti dugaan Bu RT, menikah saat menstruasi akan cepat memiliki anak. Berita bahagia inipun cepat menyebar, saat kami mengunjungi ayah dan ibu, para tetangga ada yang memberikan selamat dan ada pula yang memandang perutku sambil mengernyitkan dahi.
Kak Irsyad dan keluarga kami menguatkan tak perlu menghiraukan hal itu. Aku harus fokus kehamilan apalagi trisemester pertama yang masih rawan. Kami juga harus memikirkan persiapan pernikahan Alisha dengan Brian. Kumenjalani kehamilan ini dengan tidak begitu banyak drama. Aku lebih banyak mual di malam hari setelah pulang kerja, jadi aku bisa bekerja dengan tenang.
“Anak kita pintar ya, saatnya dengarkan murothal dulu.” Kak Irsyad mulai menyiapkan murothal untuk kudengarkan bersama calon bayi kami.
Suami siagaku, membuatkan susu, menyiapkan vitamin, kamipun mulai jarang bertengkar karena sudah saling menyesuaikan, apalagi kehamilanku membuat Kak Irsyad lebih sering menahan napas sambil geleng-geleng kepala jika ada hal yang membuat kami berselisih.
Tak terasa hari pernikahan Alisha dan Brian telah tiba. Yovita hadir bersama Ken. Tak ada penjelasan apapun tentang kebersamaan mereka. Tersenyum, memberikan selamat, lalu berfoto.
“Dua orang patah hati. Satu karena kakakku, satu lagi karena aku,” cengir Alisha
“Nggak usah gitu sayang, kita hormati yang sudah hadir kasih doa untuk kita,” Lagi-lagi Brian pawang yang pas untuk menetralkan suasana hati Alisha.
Beberapa hari setelah pernikahan Alisha, aku mengalami kontraksi hebat. Sepertinya kacapekan mempengaruhi kehamilanku. Kak Irsyadpun tidak mempermasalahkan jika aku harus melahirkan melalui jalur operasi cesar. Alhamdulillah bayi laki-laki pertamaku malah keluar sebelum penandatanganan prosedur operasi. Bayi tampan ini kami beri nama Ismail Ryuchi Kurniawan. Kami asuh penuh kasih sayang bersama-sama. Meskipun ada tetangga yang masih saja repot menghitung tanggal kelahiran anakku dan waktu pernikahanku. Lama kelamaan hal itu menguap dengan sendirinya.
Tiga tahun setelah kelahiran Ismail, aku dan Alisha dinyatakan positif. Aku dan Alisha menjalani masa kehamilan bersama. Cukup lama bagi Alisha dan Brian menanti hehadiran anak. Aku dan Alisha sering bertukar pengalaman, apalagi aku pernah mengalami sebelumnya. Hal yang membahagaian lagi kami sama-sama dikaruniai anak perempuan. Putri kecil adik Ismail, kami beri nama Nisrina Yukari Kurniawan. Beberapa hari berselang lahirlah Athalia Bianca Larasati, putri cantik Alisha dan Brian.
Kebahagiaan kami semakin bertambah, tetapi seolah angin puting beliung yang mengguncang hamparan padang rumput yang indah. Ayah terkena serangan jantung. Beberapa hari sebelum masuk rumah sakit, ayah berpesan kepadaku untuk tidak melupakan tanah kelahiranku. Tak boleh membenci siapapun dan kenalkan anak-anak terhadap leluhurnya. Kebahagiaan yang kini kudapatkan di Indonesia, berkat luka yang kudapatkan di sana. Jika dulu aku hidup bahagia di sana, pasti tidak akan ikut ke Indonesia dan bertemu Kak Irsyad. Jalani takdir Allah dengan ikhlas dan tidak boleh berprasangka buruk. Semua sudah digariskan oleh_Nya.
Kini ayah telah berpulang dengan tenang, meninggalkan istri yang tegar dan ikhlas melepas kepergiannya, juga anak, menantu dan sementara tiga cucu yang akan senantiasa mendoakannya.
Fukuoka, aku kembali. Kubawa suami dan kedua buah hatiku menuju rumah tempatku dulu dibesarkan. Bibi Ryoko yang kini telah semakin menua histeris melihat kedatanganku. Dia memelukku, mengguncang-ngguncang suamiku, dan menciumi anak-anakku. Diapun menceritakan jika Nenek Fumiko telah tiada.
Kini kami datang kembali membawa camellia merah muda untuk kami persembahkan kepada Nenek Fumiko, Tuan dan Nyonya Haruto. Di samping nisan berhuruf kanji ini kuperkenalkan keluarga kecilku, entah di alam sana mereka bisa melihat kami atau tidak.
Bibi Ryoko memintaku datang ke rumah kembali. Kulihat Kak Ichiro yang semakin dewasa. Perawakaannya masih tetap sama, mirip suamiku hanya saja sekarang suamiku lebih berisi setelah memiliki anak.
Istri Kak Ichiro menyambutku dengan ramah, memintaku mengelus perutnya yang berisi calon bayi berusia empat bulan. Kak Ichiro pun menanyakan kabarku dengan diiringi seulas senyum yang lebih hangat.
“Adikku, aku merindukanmu,” Sebuah kalimat yang meruntuhkan bongkahan gunung es di antara kami. Dia memelukku. Pelukan pertama sepanjang usia kami.
Seminggu mengambil cuti untuk berkunjung ke Jepang ini kami gunakan untuk semakin menguatkan kekerabatan kami. Aku memiliki kakak yang mengakuiku, dan berjanji akan berkunjung ke Indonesia jika anaknya telah lahir dan bisa diajak bepergian jarak jauh.
Bibi Ryoko, Kak Ichiro dan istrinya mengantarkan kami ke bandara. Mereka juga memberikan bingkisan untuk keluarga di Indonesia.
“Fukuoka, Insya Allah aku akan kesini lagi,” gumamku yang diiyakan olek Kak Irsyad. Kami pun terbang menyusuri awan menyambungkan silaturahmi antara sakura dan garuda.
TAMAT